Rabu, 16 Januari 2013

Menjadi negeri entrepreneur


Ilustrasi

FOTO : ISTIMEWAIlustrasi
BISNISACEH - Saya agak terperangah mende­ngar pandangan Brad Sugars tentang masa depan kewirausahaan alias entrepreneurship di Indonesia. Bangsa Indonesia, menurut dia, akan menjadi bangsa pengusaha. Oh iya, bagi yang belum mengenalnya, Brad Sugars adalah pendiri Action-Coach yang kini diklaim sebagai penyelenggara business coach nomor satu dunia.
Berkat ketekunan dan kegigihannya mengembangkan Action-Coach itu, pria dandy kelahiran Brisbane, Australia 41 tahun lalu itu kini menjadi salah seorang motivator bisnis yang masuk kelas miliarder, memiliki cabang di 49 negara, dengan jumlah kantor sedikitnya 1.000 buah, dan menggelar 15.000 pelatihan bisnis setiap minggu di seluruh dunia. Ketika bulan lalu menyempatkan mampir ke kantor Bisnis Indonesia, Brad menyatakan sangat optimistis bahwa Indonesia tidak lama lagi akan menjadi negara penghasil entrepreneurs yang disegani di dunia.
“Masa iya sih.. Kok banyak orang bilang bahwa Indonesia masih me­­merlukan belasan atau bahkan puluhan tahun untuk mengejar ke­ter­tinggalannya dalam memenuhi kuota sebagai negara dengan jumlah wirausahawan selayaknya negara yang sudah mentas keentrepreneurshipannya,” saya membatin, karena tidak ingin menyangkal optimismenya tersebut.
“Saya melihat gairah orang-orang untuk berbisnis di Indonesia ini sungguh luar biasa... Jangan anggap enteng mereka yang cuma jual­an di pinggir jalan, karena mereka sebenarnya sudah melakukan langkah berani untuk menjadi pengusaha... They’re the real entrepreneurs... Kalau mereka memperoleh kesempatan, saya yakin banyak di antara mereka akan menjadi pengusaha sesungguhnya,” ujar Brad mantap.
“Apa yang mendasari pemikiran Anda bahwa iklim kewirausahaan akan hidup di negeri kami ini. Kalau hanya dari indikator yang Anda sebutkan tadi, rasanya sih terlalu buru-buru untuk mengambil kesimpulan tersebut,” saya mencoba menyanggah.
“Pemerintah Anda saya lihat sa­ngat serius mengembangkan prog­­ram kewirausahaan.. Itu terbukti dari keberadaan kementerian yang khusus menangani urusan entrepreneurship.. Di banyak negara malah tidak memilikinya lho.. Selain itu, saya lihat juga banyak lembaga pendidikan kewirausahaan. Itu bagus,” ucap Brad dengan mimik serius.
Tertinggal jauh
Ekspresi kekaguman Brad ini memang tidak dibuat-buat, dan dia menyatakannya secara apa adanya. Hal ini tentu saja bertentangan dengan fenomena yang terjadi se­­lama ini, karena banyak yang me­­nilai Indonesia sangat tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia dan Thailand yang masing-masing 4% dan 4,1% warganya berkecimpung sebagai pengusaha.
Apalagi dibandingkan dengan Singapura, China, dan Jepang yang kabarnya memiliki tidak kurang dari 8% penduduknya menjadi entrepreneurs. Sedangkan di Indo­nesia, konon, baru mencapai 1,56% itu dianggap sebagai belum apa-apa.
Dari pengalaman mengunjungi berbagai kota dan/atau wilayah di Indonesia, selama lebih dari 20 tahun berkarir sebagai wartawan, saya merasakan pembenaran terhadap apa yang diyakini Brad Sugars tadi. Lha buktinya, tidak di kota maupun di desa, kini semakin ba­nyak anggota masyarakat yang membuka usaha, baik yang ber­skala individu, warung, hingga toko kelontong maupun rumah makan yang beraneka macam jenis dan menunya itu. Tidak jarang kehadiran para ‘peng­­usaha’ ini menimbulkan dampak berupa kekumuhan kota, karena mereka berjualan asal-asalan, termasuk yang model amigos alias agak minggir got sedikit. Tapi keberanian mereka ini merupakan pengejawantahan dari sikap wira usaha.
Karena dari usaha itulah, mereka dapat mengandalkannya sebagai modal untuk menjalani kehidupan. Mengenai besar-kecilnya skala usaha, saya kira tidaklah terlalu penting, karena hal itu relatif. Siapa bilang bahwa hanya menjadi peng­usaha kelas teri itu tidak bisa mencukupi kehidupan sehari-hari atau bahkan tidak bahagia hidupnya.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa jangan mengukur baju orang dengan badan sendiri. Kita tidak bisa mengukur tingkat ke­­cukupan, kesejahteraan, atau bahkan kebahagiaan orang lain dengan standar kita masing-masing. Usaha kecil di negeri ini telah terbukti tahan banting ketika krisis moneter merebak belasan tahun silam. Tingkat ketahanan atawa resiliensi mereka sudah teruji.
Semangat untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, inilah yang kini semakin menggelora di kalangan warga kebanyakan. Kita juga pantas bersyukur bahwa pilihan untuk menjadi entrepreneur ini kini mulai menjangkiti sebagian (besar) anak muda di negeri ini.
Sebagai juri di beberapa kompetisi start up companies, saya memang merasakan perbedaan nuansa di kalangan mahasiswa masa kini dibandingkan mahasiswa generasi 1980-an atau bahkan yang sebelumnya. Banyak di antara mereka kini berani menyatakan untuk menjadi pengusaha saja alih-alih mencari pekerjaan jika lulus nanti.
Tidak hanya itu, mereka juga semakin kreatif dalam berkarya. Hal itu tentu dipacu oleh lingkung­an yang memang memungkinkan bagi mereka untuk memperoleh bahan pembelajaran, termasuk lika-liku maupun 1001 cara menjadi entrepreneur, mengingat kesemua pengetahuan tersebut kini tinggal memetiknya di media cyber, wa bil khusus, dari media sosial (Facebook, Twitter, dan sebagainya).
Jadi, kebangkitan entrepreneur di Indonesia ini, berdasarkan keya­kinan Brad Sugars tadi, hanya masalah waktu saja. Kita akan menyaksikan semakin banyak entrepreneur baru mewarnai negeri ini, seiring dengan kebangkitan ekonomi Indonesia. Tentu saja pemerintah maupun berbagai lembaga yang berkepen­ting­an tidak boleh hanya berpangku tangan. Songsonglah mereka...
 editor : Saiful

Hanya 75 ribu dari 55,2 juta pelaku UKM yang manfaatkan internet



ilustrasiFOTO : Istilustrasi
JAKARTA - Kepala Pemasaran Komunikasi Finixorgle Indonesia, Johan Tandoko mengungkapkan baru sekitar 75 ribu dari 55,2 juta saha kecil menengah (UKM) di Tanah Air yang sudah memanfaatkan internet untuk memasarkan produknya.

"Jumlah UKM yang terdaftar di Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sebanyak 55,2 juta namun yang sudah 'go online' baru 75.000," kata Johan di sela-sela peluncuran situs www.pixtem.com di Jakarta, Rabu (16/1).

Padahal, lanjut dia, pasar Indonesia masih sangat besar terutama untuk perdagangan di dunia maya. Dia menyebut jumlah pengguna internet di Tanah Air mencapai 61,1 juta pada 2012 dan diperkirakan meningkat menjadi 80 juta pada tahun ini.

"Sekarang dengan telepon seluler seharga Rp500.000 saja sudah bisa online. Hal itu yang menyebabkan jumlah pengguna internet di Tanah Air terus meningkat," kata dia.

Rata-rata masyarakat di Tanah Air menggunakan waktu tiga jam sehari untuk berselancar di dunia, dengan aktivitas yang dilakukan seperti mengakses jejaring sosial (90 persen), mencari informasi (75 persen), hiburan (58 persen), surat elektronik (47,3 persen), permainan (44 persen), dan belanja (48,5 persen).

"Potensi pasar untuk belanja 'online' cukup besar. Diperkirakan akan terus meningkat," jelas dia.

Johan menyebutkan pada 2012, transaksi 'online' mencapai Rp2,5 triliun, diperkirakan pada 2013 meningkat menjadi 4,5 triliun. Meskipun demikian, dia menyayangkan masih sedikit yang peduli untuk membuat situs sendiri. Mayoritas menggunakan jejaring sosial, 'instant messenger', dan sejumlah forum jual beli.

Padahal dengan situs sendiri, para pemilik usaha dapat mengenalkan produknya dan usaha yang dikelolanya. Salah satu penyebab, masih sedikit yang membuat situs adalah karena tidak menguasai bahasa pemograman dan desain.

"Pixtem hadir memberikan solusi dari masalah tersebut. Dengan Pixtem membuat situs pribadi maupun jual beli bisa dilakukan dengan mudah tanpa harus mengerti bahasa pemograman dan desain," jelas dia. Sumber | antara/republika