Sabtu, 12 Januari 2013


Kapal di Atas Rumah, Objek Tsunami Sadar Wisata

Kapal_Atas_Rumah154856@
Objek tsunami, selain berfungsi sebagai tempat tujuan wisata juga menjadi tempat untuk merenung akan kebesaran Illahi. Salah satu tempat yang memenuhi dua kriteria di atas adalah objek wisata Kapal di atas Rumah di gampong Lampulo, kecamatan Kuta Alam Banda Aceh.
Matahari masih tinggi ketika saya sampai di sini, panasnya terasa menyengat kulit dan saya terpaksa memicingkan mata. Namun, saat melihat kapal besar yang bertengger di atas rumah saya pun takjub.
Sejenak ingatan saya kembali pada masa beberapa tahun silam, sebuah peristiwa besar bernama tsunami yang terjadi di akhir desember 2004. Yang merenggut ratusan ribu korban jiwa dan memporak-porandakan berbagai infrastruktur di Aceh.
Peristiwa besar itu pula yang membawa kapal seberat 20 ton ini tersangkut di atas rumah penduduk di kawasan gampong Lampulo, tepatnya di atas rumah keluarga Misbah dan Abassiah. Sekarang mereka tinggal di Geuceu Komplek.
Kapal dengan panjang 25 meter ini terbuat dari kayu. Bagian bawah kapal dicat warna hitam, sedangkan badan kapal tampak telah dicat kembali dengan cat minyak berwarna perak. Beberapa bagian di dinding kapal terlihat mulai lapuk dimakan usia. Lebarnya mencapai 5,5 meter. Bagi para pengunjung keberadaan kapal ini  tentu saja akan mengingatkan pada kekuasaan Sang Pencipta.
Untuk memudahkan pengunjung melihat bagian atas kapal, dibangun tangga datar setinggi lima meter. Seluruh bangunan ini berwarna abu-abu. Dari atas sini kita dapat dengan leluasa melihat bagian dalam kapal. Dan juga rumah-rumah penduduk di sekitarnya.
Di bawah kita akan menemukan sebuah plakat dalam tiga bahasa; Aceh, Indonesia dan Inggris. Plakat ini dirancang oleh tim Bustanussalatin dan bantuan recovery Aceh – Nias Trust Fund BRR. Di atas plakat ada tulisan “Kapal ini dihempas oleh gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 hingga tersangkut di rumah ini. Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya musibah tsunami tersebut. Berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu”.
Untuk mencapai objek wisata ini tidaklah sulit, letaknya berdekatan dengan kantor Puskesmas Lampulo, persis di belakang sekolah dasar (SD) 65 Coca Cola Banda Aceh. Akses ke sana juga mudah, bisa menggunakan sepeda motor atau naik becak dengan tarif tiga ribu rupiah per kilometernya.
Dengan adanya objek wisata tsunami ini, sejak 25 desember  2011 lalu gampong Lampulo ditetapkan sebagai salah satu gampong sadar wisata di Banda Aceh. Dua desa lainnya adalah Punge Blang Cut dan Ulee Lheu.
Wahyu, yang sehari-hari bertugas sebagai pemandu wisata di kawasan ini kepada The Atjeh Post, Senin 27 Februari 2012 mengatakan bahwa keberadaan Gampong Wisata ini telah memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat sekitar.
Melalui program PNPM Pariwisata setidaknya masyarakat mendapatkan suntikan dana dari PNPM untuk mengelola unit usaha berupa kedai untuk menjual berbagai souvenir dan makanan khas Aceh . Di sini pengunjung bisa membeli oleh-oleh berupa cinderamata atau pun makanan khas Aceh, dan kaos oblong. “Selain itu kita juga menyediakan buku testimoni para korban yang selamat dan brosur-brosur untuk para pengunjung,” jelas Wahyu yang fasih berbahasa Inggris.
Berdasarkan catatan yang dipunyai Wahyu, terhitung sejak Desember hingga Februari sudah ada ribuan pengunjung yang datang ke tempat ini. Mayoritas mereka berasal dari Malaysia, selebihnya dari Amerika dan Eropa. “Untuk menyambut kedatangan tamu-tamu khusus kita juga kerap menampilkan pertunjukan seperti tarian,” katanya.
Kabid Sejarah dan Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Wahyudi,  kepada the Atjeh Post beberapa waktu lalu mengatakan, bahwa keberadaan masyarakat sadar wisata ini adalah untuk membuat agar masyarakat lebih proaktif terhadap pengembangan objek wisata di daerahnya. “Sehingga masyarakat secara tidak langsung bisa menjadi tour guide bagi para wisatawan,” ungkapnya.
Sumber | atjehpost.com | Ihan Nurdin

Rencong Aceh di Mata Dunia

rencong web2_thumb[4]
Rencong (Reuncong) adalah senjata tradisional dari Aceh. Rencong selain simbol kebesaran para bangsawan, merupakan lambang keberanian para pejuang dan rakyat Aceh di masa perjuangan. Keberadaan rencong sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan masyarakat Aceh terlihat bahwa hampir setiap pejuang Aceh, membekali dirinya dengan rencong sebagai alat pertahanan diri. Namun sekarang, setelah tak lagi lazim
Digunakan sebagai alat pertahanan diri, rencong berubah fungsi menjadi barang cinderamata yang dapat ditemukan hampir di semua toko kerajinan khas Aceh. Bentuk rencong berbentuk kalimat bismillah, gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada sikunya merupakan aksara Arab Ba, bujuran gagangnya merupaka aksara Sin, bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara Mim, lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara Lam, ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara Ha.
Rangkain dari aksara Ba, Sin, Lam, dan Ha itulah yang mewujudkan kalimat Bismillah. Jadi pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi. Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah.
Rencong yang ampuh biasanya dibuat dari besi-besi pilihan, yang di padu dengan logam emas, perak, tembaga, timah dan zat-zat racun yang berbisa agar bila dalam pertempuran lawan yang dihadapi adalah orang kebal terhadap besi, orang tersebut akan mampu ditembusi rencong. Gagang rencong ada yang berbentuk lurus dan ada pula yang melengkung keatas. Rencong yang gagangnya melengkung ke atas disebut rencong Meucungkek, biasanya gagang tersebut terbuat dari gading dan tanduk pilihan.
Bentuk meucungkek dimaksud agar tidak terjadinya penghormatan yang berlebihan sesama manusia, karena kehormatan yang hakiki haya milik Allah semata. Maksudnya, bila rencong meucungkek disisipkan dibagian pinggang atau dibagian pusat, maka orang tersebut tidak bisa menundukkan kepala atau membongkokkan badannya untuk memberi hormat kepada orang lain karena perutnya akan tertekan dengan gagang meucungkek tersebut.
Gagang meucungkek itu juga dimaksudkan agar, pada saat-saat genting dengan mudah dapat ditarik dari sarungnya dan tidak akan mudah lepas dari genggaman. Satu hal yang membedakan rencong dengan senjata tradisional lainnya adalah rencong tidak pernah diasah karena hanya ujungnya yang runcing saja yang digunakan.
Ada empat macam rencong yang menjadi senjata andalan masyarakat Aceh yaitu :
  • Rencong Meucugek
  • Rencong Meupucok
  • Rencong Pudoi
  • Rencong Meukure
Rencong Meucugek
Disebut rencong meucugek karena pada gagang rencong tersebut terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek.
Rencong Meupucok
Rencong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari gading atau emas. Bagian pangkal gagang dihiasi emas bermotif tumpal (pucok rebung) serta diberi permata ditampuk gagang, panjang keseluruhan rencong sekitar 30 cm. Sarung rencong juga dibuat dari gading serta diberi ikatan dengan emas. Bilah terbuat dari besi putih.
Rencong Pudoi
Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang dianggap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna. Gagang rencong ini hanya lurus saja dan pendek sekali. Jadi, yang dimaksud pudo atau yang belum sempuna adalah pada bentuk gagang rencong tersebut.
Rencong Meukure
Perbedaan rencong dengan rencong jenis lain adalah pada mata rencong. Mata rencong diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan bunga dan lainnya.
Editor: Saiful